Huwaa… ngga terasa ya FF nad udah sampe di part 6. Oh ya~ sebelumnya mian ya readers updatenya agak lamaaa~~~ udah ditulis sih sampe part berapaan tau, tapi nad suka “selingkuh” di blog satu lagi hehe jadi keteteran.. Semoga ngga ada yang bosan ya😉 *wink wink geniiit

Dan lagi, nad pengeeen banget kenalan ama readers, so leave your blog name di bagian komen atau mail me di tink_nad@yahoo.com. Just in case kalau ada yang nulis FF atau tertarik dengan hal yang sama, atau tidak sama sekali, atau ingin berteman dengan nad, feel free to leave your blog link. I’ll appreciate that ^^

Nad juga sedang menulis beberapa FF one shoot *yang susah ternyata yaa hehe* dan insya allah  buat post disini juga. Anihoo, buat yang penasaran ama kelanjutan H!ICB sok dibaca #eaaa

Pt. 6

“Noona…”

Panggilnya. Apakah itu kakaknya?

Dia mencium wangi segar tomat di udara. Dan tumisan bawang.

Itu pasti noona.

Soohyun bergegas ke dapur.

“Hey, beruang, akhirnya kamu bangun juga.”

Ha neul tersenyum simpul melihat penampilan adiknya.

Rambut acak – acakan, kaus putih belel dan celana pendek.

Belum lagi matanya yang kemerahan. Seperti beruang, pikirnya.

Soo hyun mencomot sosis goreng.

“Iiiihh jorok! Soo hyun ah, cuci mukamu dulu. Sikat gigi!”

“Noona, sudah lama kita tak bertemu, kau malah mengomeliku!”

Namun soo hyun menurut.

Tidak mendengarkan perintah Ha neul berarti petaka. Petaka besar.

Bisa – bisa noonanya merajuk.

Soo hyun memilih lebih baik dia mandi sekalian.

Mereka hanya makan berdua.

Spagetti asam manis, salad udang dan sosis goreng.

Hanya itu yang bisa noonanya masak.

Pernah sekali dulu dia masak ayam lada garam, tapi rasanya tak karuan.

“Soo hyun”

Panggil Ha neul.

Soo hyun menghentikan suapannya, “ya?”

“Apa kamar itu kosong?”

Soo hyun melihat ke arah yang di tunjuk Ha neul.

“Iya noona. Kenapa?”

Ha neul menghela nafas.

“Noona boleh tinggal di sini?”

Soo hyun menatap Ha neul. Sepertinya noona satu – satunya ini sedang ada masalah.

“Noona bertengkar dengan ayah. Ayah akan menjodohkan noona dengan anak sahabatnya”.

Ayah selalu begitu, memaksakan kehendak.

Tidak cukup dia memaksa Ha neul untuk bersekolah di kedokteran, kali ini ia akan menentukan jodohnya pula.

Lari dari rumah ketika SMA dulu rasanya cukup tepat.

Soo hyun mengangguk.

“Biarpun kecil, apartemen ini cukup besar untuk kita berdua kak. Nanti aku akan bicara pada ibu.”

Ha neul seketika kembali cerah.

“Hanya sementara, noona akan mencari tempat lain yang lebih dekat dengan tempat praktek noona”.

“Oh ya, tadi sebelum ke sini noona meneleponmu. Tapi tidak diangkat. Jadi noona masuk saja. Maaf ya.”

Soo hyun ingat dia pernah memberikan kunci cadangan kepada noonanya.

Kemudian Soo hyun mencari handphonenya.

Benar saja, kakaknya memanggil 3 kali. Ketika melihat handphone yang satunya lagi, dia melihat ada 6 panggilan dan 2 sms.

Satu dari manajernya dan 5 dari nomor yang tidak di kenalnya.

Nomor itu meng sms nya 2 kali.

“kim soo hyun, maaf saya Bae su ji. Apakah anda menemukan diaryku? Hubungi aku ketika kau membaca pesan ini”

“KIM SOO HYUN! Kau mempermainkanku? Mati kau!”

Wah, gadis yang kasar.

Kenapa dia tak sabaran sekali, padahal aku sudah berniat baik memberikan nomor teleponku padanya.

Soo hyun sedikit menyesali mengapa dia tidak menitipkan pada pelayan kedai itu saja.

Soo hyun memang ingin sedikit mengerjai gadis itu, dan sedikit ingin bertemu dia lagi.

Tapi gadis ini benar benar kasar.

Soo hyun menelepon gadis itu.

Tidak di angkat.

Dua kali. Tiga kali.

Hah!

Soo hyun menulis sms balasan.

“Nona, sepertinya kau salah sangka. Lebih baik kutitipkan barangmu ini ditempat kau meninggalkannya”.

Soo hyun meradang.

“Hey, kenapa?”

Ha neul tampak rapi dengan baju terusan warna gading, pump shoes senada dan lilitan syal warna navy. Clutch berwarna cokelat tersisip di tangannya. Tampak serasi dengan rambut dan mata cokelatnya.

“Noona, apa ada gadis sekasar itu?”

Soo hyun menceritakan tentang pertemuan dengan Bae su ji, dan smsnya.

Ha neul tertawa.

“Semua gadis memang begitu jika merasa terancam. Tapi, jika dia tahu Kim soo hyun itu se tampan kamu, dia pasti akan menyesal telah berlaku kasar”

Ha neul  selalu bisa membuat Soo hyun tersenyum salah tingkah.

“ Noona, rapi sekali. Mau kemana?”

Kini giliran Ha neul yang salah tingkah.

“Noona ada janji dengan seseorang. Apa ini terlihat berlebihan?” tanyanya manja.

“Tidak. Noona cantiiik sekali. Siapapun yang ingin noona temui, pasti terpesona.”

“Ini pasien, adikku.”

“Apa dokter memang selalu berdandan seperti ini? Noona, aku antar ya. Aku ingin ke suatu tempat.”

Soo hyun segera berganti pakaian.

Dia ingin mengantar diary itu dan mengambil naskah drama terbarunya.

Suzy sangat lelaaaah.

Seharian ia berlatih koreo untuk konsep terbaru mereka.

Padahal promo album sebelumnya baru selesai kemarin.

Tubuhnya terasa remuk, bahkan script untuk my wedding belum dia baca.

Nanti saja sebelum tidur.

Suzy mengambil hp nya.

Ada 3 panggilan.

Kim soo hyun. Jeritnya.

“Ada apa suze?”

Fei oennie mendekati suzy. Si petasan ini selalu meledak – ledak, pikirnya.

“Oennie, masih ingat kan penguntit itu? Dia mengembalikan diaryku. Dia menitipkan ke kedai kopi. Ahh, sayang sudah malam, besok aku ke sana oennie.”

“Sekarang saja. Oennie temenin. Benda seperti itu sangat penting. Oennie juga ingin kopi”

“Kami ikuuut..” rengek jia dan min oennie.

Suzy menggeleng. “Biar aku dan Fei oennie saja yang pergi. Oennie kan capek”

Suzy tidak enak menyusahkan mereka. Seandainya saja ini bukan diary itu, Suzy memilih untuk segera ke dorm dan tidur.

“Tidak!!” Jawab mereka kompak.

Suzy tidak punya pilihan lain, mereka lalu keluar dari ruangan latihan dan mencari supir.

Menuju coffee shop.

Suzy menggenggam diarynya erat. Seperti mimpi menemukannya kembali!

Hara, Hyunjae, tiba – tiba ia rindu akan sahabatnya. Sebaiknya sebelum tidur Suzy akan menelepon mereka.

Sesaat mobil melaju, lalu tiba – tiba Suzy membelalak matanya.

Minho! Pikirnya. Tangannya menjadi dingin seketika ketika melihat Minho bersama seorang gadis akan menaiki mobil. Minho bersama cewek? Pikiran Suzy serasa berhenti, inderanya mengabur. Suasana terasa hening, padahal Min dan Jia sedang menyanyikan lagu.

Yang ia ingat, ia berteriak, “STOP!”